adsense1

PARADIGMA BARU DALAM KEPELATIHAN GERAKAN PRAMUKA

Oleh
Drs. Suyatno, M.Pd
Drs. Ganet Boedi Oetomo


A. Pendahuluan
Sudah menjadi kenyataan, kalau Indonesia dalam kualitas pendidikan berada di peringkat 109 sedangkan Malaysia berada di peringkat 61 dari seluruh jumlah negara-negara di dunia ini. Kondisi tersebut dilaporkan langsung oleh Depdiknas (lihat Sindhunata, 2000:218). Gerakan Pramuka di Indonesia merupakan bagian integtral dari pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu, mau tidak mau, Gerakan Pramuka memberikan andil bagi keterpurukan pendidikan di Indonesia.
Berkait dengan fakta di atas, kemudian para pakar memberikan rumusan sebab-sebab keterbelakangan pendidikan di Indonesia melalui berbagai seminar pendidikan. Keterbelakangan tersebut disebabkan oleh :
(1) pendidikan diselenggarakan untuk kepentingan penyelenggara bukan untuk peserta didik;
(2) pembelajaran yang diselenggarakan pemindahan isi (content transmission). Tugas pengajar hanya sebagai penyampai pokok bahasan. Mutu pengajaran menjadi tidak jelas karena yang diukur hanya daya serap sesaat yang diungkap lewat proses penilaian hasil belajar yang arti fisial. Pengajaran tidak diarahkan kepada partisipatori total dari peserta didik yang akhirnya dapat melekat sepenuhnya dalam diri peserta didik;
(3) aspek afektif cenderung terabaikan;
(4) diskriminasi penguasaan wawasan terjadi akibat anggapan bahwa yang di pusat mengetahui segalanya dibandingkan dengan yang di daerah, yang di daerah merasa mengetahui semuanya dibandingkan dengan yang di cabang, yang di cabang merasa lebih tahu dibandingkan dengan yang di ranting, begitu seterusnya. Jadi, diskriminasi sistematis terjadi akibat pola pembelajaran yang subjek-objek; dan
(5) pengajar selalu mereduksi teks yang ada dengan harapan tidak salah melangkah. Teks atau buku acuan dianggap segalanya jika telah menyampaikan isi buku acuan berhasillah dia.
Jika ditarik benang merah ke dunia kepramukaan, terdapat kesepadanan kasus. Lihat saja. Pendidikan kepramukaan merupakan pendidikan yang berada di luar rumah dan di luar sekolah yang menggunakan alam bebas sebagai wahananya. Tetapi, yang terjadi adalah pendidikan yang berada di ruangan. Pembina Pramuka sejatinya adalah Pembina yang harus mampu berada di alam bebas dalam mengaplikasikan kepramukaan berdasarkan perkembangan peserta didik. Namun, penyiapan Pembina justru berada di ruangan dengan melahap sekian buku acuan. Manakala calon Pembina menerima materi system berkelompok yang diterimanya adalah ceramah tentang kelompok. Materi berkelompok tidak direfleksikan dari kelompok yang mereka bentuk sejak awal pertemuan. Begitu pula, kursus-kursus calon Pembina lanjutan, juga berada di dalam kelas. Walhasil, Pembina meniru system kelas. Akhirnya, di mana-mana, pelatihan kepramukaan diadakan di dalam kelas atau halaman sekitarnya. Begitu, Pembina ditantang untuk berada di alam bebas, mereka berfikir dua kali. Penulis telah melakukan pengamatan berkali-kali tentang fakta Pembina yang alergi terhadap kegiatan alam bebas.
tersistematis yang memberikan nuansa kepramukaan sesuai dengan jatidirinya. Kemudian, paradigma baru yang berpola pendidikan kritis model Freire dan DePorter dapat menjadi rujukan terlepas apakah mereka seorang Pramuka atau tidak. Yang terpenting adalah pemikirannya amat cocok bagi dunia pendidikan kepramukaan. Demikianlah sekadar bagi-bagi pengalaman kami.
Post a Comment

adsense3

Sobat Scout Moslem's

Jaka Fadrika (Scout_Moslem). Powered by Blogger.